
JEJAK PENGABDIAN MAHASISWA PERBANDINGAN MAZHAB DI BANTEN
Banjarmasin — Sebulan berada di Desa Bojong Menteng, Kabupaten Lebak, Banten, memberi pengalaman yang jauh lebih luas dari sekadar menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bagi Muhammad Fiqri, mahasiswa angkatan 2023 Program Studi Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah UIN Antasari Banjarmasin, KKN Nusantara VI menjadi ruang untuk belajar langsung dari masyarakat sekaligus menguji bagaimana pengetahuan yang diperoleh di kampus dapat memberi manfaat nyata.
Fiqri merupakan salah satu peserta KKN Nusantara VI Perguruan Tinggi Keagamaan Se-Indonesia Tahun 2026 yang dikoordinasikan Kementerian Agama RI. Program yang berlangsung 15 Juli–22 Agustus 2026 itu dibuka di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi keagamaan di Indonesia.
Dari titik awal tersebut, Fiqri bersama kelompok lintas kampus kemudian ditempatkan di Desa Bojong Menteng. Sebelum menjalankan program, mereka lebih dulu mengenali kehidupan warga, memetakan kebutuhan desa, dan mendiskusikan gagasan bersama masyarakat.
Dari proses tersebut lahir sejumlah program yang menyentuh berbagai sisi kehidupan warga.
Dalam bidang lingkungan, misalnya, kelompok KKN memperkenalkan rocket stove sebagai alternatif pengelolaan pembakaran sampah, menyediakan tempat sampah, serta mengedukasi warga tentang pemilahan dan pengelolaan sampah melalui fasilitas 3R yang tersedia di desa.
Di bidang pemberdayaan, mereka menggelar delapan kali kelas yang menggali potensi sumber daya alam desa. Kegiatan ini kemudian diarahkan pada penguatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Karang Taruna serta pembentukan pengelola wisata yang lebih terstruktur. Upaya tersebut juga dibawa ke tingkat pemerintah daerah melalui audiensi dengan sejumlah pihak, termasuk Kesbangpol, pemerintah kabupaten, dan Dinas Pariwisata.
Kehadiran mahasiswa juga meninggalkan jejak pada identitas desa. Bersama warga, mereka membangun gapura utama, memasang penanda wilayah RW, serta membantu membuat peta titik wilayah Desa Bojong Menteng yang terdiri atas 18 RT dan 4 RW.
Pada sektor ekonomi, perhatian diarahkan kepada pelaku UMKM. Mahasiswa membantu membuat video profil, foto produk, dan desain kemasan, sekaligus berdialog dengan pelaku usaha untuk memahami persoalan yang mereka hadapi. Produk UMKM juga turut diperkenalkan dalam sejumlah kesempatan, termasuk saat kunjungan Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. H. Hasni Noor, M.Ag.
Namun, salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Fiqri adalah kegiatan di Kampung Mualaf. Tiga kali seminggu pada sore hari, selama empat minggu, ia bersama mahasiswa dari rumpun keguruan mendampingi anak-anak melalui pembelajaran interaktif.
Pelajaran tidak berhenti pada materi umum. Anak-anak juga dikenalkan dengan ekoteologi, ekologi, Asmaul Husna, sifat 20, dan ajaran Islam lainnya. Kegiatan kemudian ditutup dengan penampilan hafalan, tari, dan rebana.
“Kesan ulun banyak banget, sampai sekarang aja masih gagal move on dan kontakan terus sama teman-teman dan masyarakat sana,” kata Fiqri.
Pengalaman pengabdian itu juga menyentuh lingkungan pendidikan. Bersama siswa SMP dan SMK Muhammadiyah, kelompoknya merevitalisasi green house untuk mendukung kegiatan praktikum dan penanaman sekitar 350 bibit pohon. Mereka juga melatih siswa menjadi petugas upacara untuk peringatan HUT Kemerdekaan RI.
Di luar program tersebut, Fiqri dan rekan-rekannya terlibat dalam berbagai aktivitas masyarakat: mengajar di sekolah dasar, senam bersama, bersilaturahmi melalui tradisi liuwetan, membantu administrasi desa, hingga melakukan riset mengenai kehidupan masyarakat Badui Dalam dan Badui Luar, termasuk antropologi dan hukum adatnya.

Belajar dari Perbedaan
KKN di tempat yang baru tentu tidak selalu berjalan mudah. Fiqri harus beradaptasi dengan lingkungan yang didominasi bahasa Sunda, cuaca panas dan kering, serta perbedaan karakter dan budaya di antara anggota kelompok yang datang dari berbagai daerah.
Ada pula tantangan dalam membangun partisipasi masyarakat. Sebagian warga pada awalnya belum terlalu antusias mengikuti program. Namun, pendekatan melalui lembaga dan tokoh lokal perlahan membuka ruang komunikasi.
Bagi Fiqri, justru di situlah salah satu pelajaran penting KKN: pengabdian tidak cukup hanya dengan membawa program. Ia membutuhkan kemampuan mendengar, memahami konteks, dan membangun kepercayaan.

Interaksi dengan masyarakat Bojong Menteng dan komunitas Badui juga membuat pengalaman tersebut menjadi lebih dari sekadar kegiatan akademik. Fiqri merasa mendapatkan pelajaran tentang keragaman sosial, budaya, dan kehidupan beragama yang tidak selalu dapat ditemukan di ruang kelas.
Ia berharap gagasan yang telah dirintis bersama dapat terus dirawat oleh masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus. Baginya, keberhasilan KKN bukan hanya terletak pada banyaknya program yang selesai, tetapi pada apakah masyarakat dapat melanjutkan sesuatu yang telah dimulai bersama.
Pengalaman Fiqri di Banten memperlihatkan bahwa pembelajaran di Fakultas Syariah tidak berhenti pada teks dan ruang kelas. Ketika bertemu masyarakat, pengetahuan keislaman, kepekaan sosial, kemampuan berkolaborasi, dan kepedulian terhadap lingkungan menemukan ruang praktiknya.
Di sanalah KKN menjadi lebih dari sekadar kewajiban akademik: sebuah kesempatan untuk belajar sekaligus meninggalkan jejak kebaikan.
(Pewarta: Astridina Iranda/Editor: Ahmad Muhajir)

Tag:PM KKN NUSANTARA



